Setiap hari, listrik mengalir ke ruang kelas, lorong, dan kantor
sekolah kita. Sebagian besar terpakai dengan wajar. Tapi ada juga
yang terbuang sia-sia, seperti lampu yang menyala di ruang kosong,
kipas yang berputar tanpa ada orang di bawahnya, proyektor yang lupa
dimatikan setelah jam pelajaran. Empat hal di bawah ini menjelaskan
kenapa kebiasaan kecil itu layak kita perhatikan.
01
Energi terbuang tanpa disadari
Di banyak gedung publik, sekitar seperlima listrik terpakai
untuk peralatan yang sebenarnya sedang tidak digunakan. Kipas
yang masih berputar, komputer yang lupa dimatikan, lampu yang
menyala sepanjang malam, semuanya menambah tagihan tanpa kita
sadari.
02
Efeknya menumpuk
Satu lampu yang menyala di ruang kosong mungkin cuma beberapa
ribu rupiah sehari. Tapi kalau ada sepuluh ruangan dengan
kebiasaan yang sama, selama sebulan penuh, angkanya bisa jadi
jutaan. Pemborosan hampir tidak pernah datang dari satu kejadian
besar, ia menumpuk dari hal-hal kecil yang dibiarkan.
03
Berhubungan dengan iklim
Listrik di Indonesia sebagian besar masih diproduksi dari batu
bara. Artinya setiap kilowatt-jam yang kita hemat berarti
mengurangi jumlah batu bara yang harus dibakar, sekaligus
mengurangi emisi karbon yang memperparah perubahan iklim. Hemat
energi di sekolah bukan sekadar soal tagihan, ini kontribusi
nyata untuk lingkungan.
04
Dimulai dari kebiasaan
Perubahan besar tidak butuh teknologi mahal atau renovasi. Yang
dibutuhkan cuma kebiasaan baru, mematikan lampu saat keluar
kelas, mencabut charger setelah dipakai, mematikan kipas saat
jam istirahat. Kalau semua warga sekolah melakukannya, dampaknya
berlipat.